Desa Penghasil Garam Di Jepara Jilid 2

Jujur saja, saya kaget mengetahui semua teman saya tidak tahu bahwa Jepara memiliki berhektar-hektar tambak garam. Areanya membentang jauh sekali sampai ke kota tetangga, kota Demak. Berkilo-kilo meter jalan alternatif menuju Semarang melalui jalan pesisir pantai menyajikan hamparan tambak udang, bandeng, dan garam. 


tambak garam di Jepara

Saya saja sampai hafal banget saking seringnya melewati jalan itu jika ingin mengunjungi emak-bapak dan saudara-saudari di Wedung - Demak. Mungkin saking terbiasanya, saya merasa semua juga tahu. Naluri blogger saya tergelitik. Waktunya action, kembali memperkenalkan kota tercinta, Jepara. Kalau dulu  aktif di blog sebelah yang menyajikan banyak informasi tentang Jepara, kali ini di sini saja ya. 

Biar nyambung dengan posting sebelumnya: Desa Penghasil Garam di Jepara.

Di Jepara, ada beberapa desa penghasil garam, yaitu: desa Panggung, Kedung Malang, Kalianyar dan beberapa desa lagi (saya lupa) yang berbatasan dengan Demak. Tambak garamnya membentang puluhan kilometer di jalan beraspal yang juga merupakan jalur alternatif menuju Demak dan Semarang melalui pesisir. Dahulu tambak garam tak sebanyak ini. Dahulunya desa-desa ini penghasil udang windu. namun karena banyak yang kolaps, mereka beralih ke tambak garam yang lebih minim modal. 

Minim modal? Iya. Modal terbesar hanya sewa lahan (jika tidak punya) dan membuat kincir angin. Sisanya diserahkan pada alam. Laut dan matahari adalah modal gratis mereka. Modal yang lain adalah membayar buruh angkut garam yang semuanya adalah perempuan. Perempuan Jepara dikenal sebagai wanita tangguh dan mudah dicari untuk menjadi kuli. Biayanya tak mahal. Per sak yang diangkut dikenai biaya sekitar 2500 rupiah tergantung jauh dekatnya jarak angkut. maaf, info yang ini saya kurang update. 
Wanita tambak garam




Kendala utama petani garam adalah naik turunnya harga garam. Jika garam langka, harganya mahal. Jika harga banyak, akan turun sangat drastis. Para petani garam yang memiliki modal akan membuat rumah penyimpanan garam seperti di foto atas.


Kincir angin untuk mengisi air tambak garam. prinsip kerjanya sederhana, tapi tetap mengagumkan


Gambar garam siap jual dan kincir angin. fotonya lumayan bagus ya


Proses memanen




Melihat cara petani garam bekerja sangat menyenangkan. Jujur, say masih tahap pengamat. Pernah berhenti untuk bertanya-tanya, tetapi itu sudah lama. Tak tersisa informasi yang bisa diingat. Semoga saja di musim kemarau nanti saya bisa menggali informasi lengkap cara membuat garam. Yang saya tahu, tambak diratakan sampai padat seperti di gambar atas lalu dialiri air laut. Setelah beberapa hari, garam bisa mulai diserok dengan alat yang mirip untuk mengumpulkan padi di pengeringan. Alatnya sederhana saja, dari kayu jati. Seperti disapu. 

Posting Komentar

12 Komentar

  1. aku juga ga tau loh klo jepara itu penghasil garam.. hehehe.. ternyata luas bgt tambaknya.
    itu buruh angkutnya perempuan ya, kuat bgt ya..pdhl bayarannya murah.. perempuan perkasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua buruh angkutnya perempuan mbak. Terima kasih

      Hapus
  2. saya pernah lihat yang di NTT mak...sedih melihat mereka tetap miskin, walaupun sudah berupaya keras...TFS ya mak..cheers...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setahuku yang disekitar hanya buruh mak. kalo petani garam ya lumayan berada.

      Hapus
  3. aku baru tau juga di Jepara ada ini..tau y selama ini ada di Madura..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pati, Jepara, Demak adalah pesisir utara yg mempunyai banyak petani garam.

      Hapus
  4. Garam dihargai murah ya mbak, kasihan sekali petaninya

    BalasHapus
  5. Saya juga baru tahu kalau Jepara punya daerah penghasil garam. Kirain cuma Madura saja..

    Itu ternyata di sawah-sawahnya ada kincir angin. Keren kayak di Belanda. :D

    BalasHapus
  6. keberadaan garam ini paling penting buat masakan :)

    BalasHapus
  7. masih dengan cara tradisional banget ya...

    BalasHapus
  8. Para pekerja keras ini layak dihargai dengan memberikan harga yang layak produksi garamnya ya Jeng
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  9. Saya juga baru tahu kalau ada ladang garam di Kedung Malang.
    Sayangnya pas kemarin kesana, sedang tidak produksi.

    BalasHapus