Bahaya gadget bagi bayi

Saat Giandra belum lahir, saya membayangkan akan menjauhkannya dari gadget. Namun pada praktiknya, ternyata tidak bisa. Kelekatan saya pada gadget terlalu baik. Saya memegangnya erat saat hamil agar tetap nyaman. Kehamilan di usia 40 tahun dengan jarak anak 11 tahun bukanlah hal mudah bagi saya.



Saya aktif sebagai blogger dan influencer, dan berniat mengoptimasi mereka agar naik kelas. Jadi saya ikut banyak grup walking untuk berbalas kunjungan dan meningkatkan impresi. Dan itu artinya saya sibuk dengan gadget.

Ternyata... banyak alasan yang bisa saya tulis demi pembenaran. 

Pertanyaan yang paling sering dilontarkan adalah: Apakah gadget berbahaya bagi bayi? Bahaya gadget bagi bayi; mitos atau fakta?


Bahaya radiasi ponsel pada bayi
Saya selalu penasaran apakah memegang ponsel di dekat bayi akan membahayakannya. Saya menemukan jawabannya pada salah satu video Dr Tiwi TV. Ada beberapa bahasan tentang gadget dan anak di sana dan cukup lengkap.

Salah seorang narsum mengatakan bahwa ponsel generasi sekarang memiliki tingkat radiasi yang sangat kecil sehingga relatif aman. Masalah ini menjadi salah satu fokus mereka karena menyadari tentang kebiasaan dan kelekatan manusia zaman sekarang dengan gawainya. 

Tapi hal ini masih menjadi perdebatan juga. Banyak yang merasa bahwa ponsel sangat berbahaya bagi otak bayi - terutama radiasi - yang belum berkembang dengan baik. Salah satu pencetusnya adalah WHO pernah melangsir berita bahwa sinyal radiasi dari smartphone mungkin berpotensi karsinogenik atau menyebabkan kanker. Tetapi belum ada hasil studi solid yang mengatakan bahwa penyebab kanker ini pasti sinyal radiasi smartphone. Berita ini belum diupdate sehingga wajar jika tetap dipegang teguh. 

Yang jelas, masalah radiasi dari ponsel terhadap kesehatan, sampai sekarang memang masih menjadi perdebatan. Belum ada studi yang bisa menyimpulkan bukti-bukti yang nyata.
Berbeda dengan studi kesehatan tentang bahaya mendekatkan ponsel di dekat bayi, yang menyarankan agar tidak melakukan hal itu, mengingat perkembangan otak dan tempurungnya belum sempurna. 

Mungkin salah satu cara efektifnya adalah membuat ponsel menjadi mode terbang. 

Bahaya gadget bagi bayi dan anak
Meski perdebatan tentang bahaya atau tidaknya radiasi (sinyal) ponsel bagi bayi tetap seru, namun kita bisa menyepakati satu hal, yaitu ponsel tidak cocok untuk bayi.

Bayi butuh belajar banyak hal dan penyesuaian. Ia butuh interaksi nyata. Butuh ibu dan ayah yang eksresif. Butuh mengenal tinggi rendah suara untuk memahami ada pesan di sana.

Suara pada aplikasi gawai bersifat flat. Tak ada interaksi di sana. Bayi dan batita hanya melihat saja. Menunduk memandang layar kaca. Justru inilah bahaya yang nyata.

Bayi dan batita melihat orang di sekitarnya melakukan banyak hal secara riil. Ada emosi di sana. Ada interaksi dan ekspresi. Ada manusia yang saling bantu. Ada yang saling sapa. Dan itu nyata dilihatnya.

Hal-hal di atas mungkin terlihat di layar ponsel, namun tidak nyata. Anak cukup cerdas untuk mengolah perbedaannya. 

Tenang menunduk memandang layar ponsel juga membuat anak tidak memperhatikan sekitar. Ia bisa kehilangan fitrah dasarnya berupa kasih sayang dan empati. Sangat menakutkan membayangkan mereka tumbuh tanpa memerdulikan sekitarnya.

Ponsel takkan bisa menggantikan kontak antar manusia.

Gadget yang satu ini lebih sering mengalihkan perhatian bayi dan batita dari berinteraksi dengan orang tuanya, saudara, dan bayi lain yang sebaya dengannya. Dan Siegel dari Pusat Penelitian Kesadaran Pikiran, mengatakan bahwa ini dapat menghambat perkembangan bahasa, sosial dan emosional bayi. Hal ini juga dapat memengaruhi perkembangan wawasan, cara mengenali diri sendiri, dan berkaitan dengan hubungan.
Anak bisa saja memiliki referensi kosakata yang terlalu sedikit untuk usianya, meski tiap hari ia mendengarkan suara dongeng di sana. Hal yang sama bahayanya adalah kemampuan berpikir dan dan perkembangan sosialnya yang sudah pasti terhambat.

Tak perlu terlalu dini menitipkan anak pada ponsel, karena ketenangan anak yang memegang ponsel dan diajak bermain orangtua jelas berbeda sekali. 

9 Komentar

  1. Tetangga ada tuh yang dari kecil sudah main hp. Jadi matanya sering belekan. Ortunya juga lihat hp mulu. Semoga kalau aku ada anak gak kaya gitu. Pertama ya kudu nyapih diri sendiri dulu. Gadget boleh, tapi ada waktunya

    BalasHapus
  2. Aduh, jangan sampai deh bayi dikasih gedget, wong anak-anak sebelum usia lewat SD aja harusnya belum boleh Kak. Bahaya.

    BalasHapus
  3. Aku percaya kalo gadget itu punya dua mata pisau gitu lho. Untuk bayi udah pasti jangan dikasih gadget dulu nanti developmentnya berkurang. Ttapi kalo untuk yg anak nak kalo usah da googlr parental controlnya gitu. Buat ngecontrol penggunaan hape!

    BalasHapus
  4. Ah iya setuju banget, buat balita aja gak cocok apalagi bayi. Aku gak kebayang dari bayi sudah terpapar radiasi. Mending tv deh mayan nontonnya jaraknya jauhan

    BalasHapus
  5. Ternyata memang tidak baik ya mengenalkan gadget pada balita, bisa menimbulkan banyak permasalahan, sampai potensi ketergantungan di kemudian hari

    BalasHapus
  6. soal anak dan hp ini emang selalu penuh dilematis rasanya. aku yg belum punya anak sering mimilih ga berani komen. kadang suka sih terlintas dalam pikiran: "duh kok masih kecil udah dibiasain dg gadget. nanti pokoknya kalau aku punya anak ga boleh."
    tapi ya, blom ada anak pun aku suka sadar sih, keseharian aku aja ga jauh dari gadget terkait kerjaan. bukan ga mungkin akhirnya anak-anak aku mencontoh

    BalasHapus
  7. Gadget buat bayi better dibatasin yaa kak, biar gak kecanduan, aku aja kalo lagi deket ponakan jarang buka HP. Biar mereka gak liat kalo aku main gadget terus huhuhu

    BalasHapus
  8. Aku termasuk orangtua yang keras terhadap aturan screentime, karena pernah mengalami masa-masa dimana "Anak dititip ke handphone agar anteng".
    Dampaknya anak jadi sring hilang fokus dan susah diajak komunikasi.

    BalasHapus
  9. Duh... ini bikin saya sering kesel ama orang tua yang sedari bayi sudah menggunakan gadget sebagai "teman" dan "senjata" supaya anak bisa tenang dan anteng. Padahal kecanduan gadget sungguh menakutkan

    BalasHapus