Laporkan Penyalahgunaan

Selamatan dan Agama Ageming Aji

7 komentar

"Agama ageming aji"... barusan baca sampai sini dan langsung pengen menulis saja. Buat kenangan atau pengetahuan orang zaman sekarang yang sudah makin jauh dengan kode-kode budaya semacam ini.



Sesuai dengan tujuan pembuatan blog ini, yaitu untuk menggali kenangan saya sebagai bagian dari generasi x akhir. Saya masih menikmati tradisi lokal zaman nenek yang menyenangkan. Untuk menggali kenangan, sharing bacaan, sekalian mensyukuri proses "menua dengan bahagia". Dua tahun ini bacaan saya adalah kehidupan zaman nenek. Hihihi.

Ini bukan tulisan berat sih menurut saya. Bakalan super ringan saja karena diawali dengan keisengan baca buku lama, tentang daur hidup manusia Jawa.


Sedang iseng baca tentang selamatan, sebuah kebiasaan di sini yang selalu dilakukan dengan banyak tujuan. Nyaris semua perkembangan manusia 'diselameti'. Mulai dari janin sampai meninggal. Para ilmuan sosial menyebutnya daur hidup.

Beneran bacaan iseng saja dan bacaan agak ringan. Ada sebuah frasa menarik yaitu "agama ageming aji". Wah, wah, wah.... menarik sekali. Masyarakat Jawa menganggap agama ageming aji sehingga kegiatan keagamaan masuk dalam hampir seluruh kegiatan hidup sehari-hari. 

Saya  googling sebentar dan menemukan kalimat ini muncul dalam Serat Wedatama. Serat piwulang yang satu ini memang banyak membahas tentang kehidupan beragama dan merupakan buku panduan beragama para raja dan keluarganya. Serat ini menyebar ke dalam lingkungan priyayi yang dahulunya merupakan "para adik raja". Adik sedarah maupun adik karena pernikahan, atau bahkan adik ideologis, alias mereka yang menganut cara hidup dan pandangan hidup yang sama.


Agama ageming aji artinya adalah agama sebagai pakaian orang mulia. Kenapa pakaian karena ageming itu berasal dari kata ageman alias pakaian. Dengan berpakaian agama maka siapapun akan terhindar dari perbuatan aniaya, nista dan hina.

Kata pakaian juga karena dipakai sehari-hari di tubuh, maka ritualnya menyatu pula dalam kehidupan masyarakat. Selamatan ini salah satu bentuknya.

Dari kata dasarnya "selamat" pasti tahu bahwa yang dimohonkan adalah keberkahan dan keselamatan. Hidup berkah dan selalu selamat dari perbuatan buruk maupun dari 'cilaka' yang mungkin sedang mengintai. 

Ritus atau ritual ini sudah jadi bagian dari hidup orang Jawa yang masih meyakini pentingnya diadakan selamatan. Meski sudah banyak berubah dan disederhanakan tapi tetap dilakukan, mulai dari kehamilan, kelahiran, usia kanak-kanak, baligh, menuju dewasa bahkan setelah meninggal dunia. Bahkan saat sedang sakit atau ada kesulitan hidup seperti ingin cepat kerja.

Di daerah pesisir dan beberapa bagian dari desa masih membuat selamatan mini setiap hari weton kelahiran anak sampai ia baligh. Jadi setiap 36 hari sekali akan membuat nasi asahan, didoakan sendiri oleh ibu atau sesepuh, lalu dibagian ke tetangga kanan-kiri. Nasi semacam ini sedapnya di atas rata-rata!




Mulder dalam buku Mistisisme Jawa: Ideologi di Indonesia berpendapat bahwa selamatan merupakan mekanisme integrasi sosial; sebagai bentuk kesadaran kultural yang merupakan sumber kebanggaan dan jati diri. Bisa dimaklumi juga pendapatnya ini karena dalam tataran tertentu, selamatan merupakan sarana untuk menjaga integrasi sosial dengan orang sebanyak mungkin, yang pada gilirannya, bagi orang tertentu, akan menjadi sumber kebanggaan dan jati diri sesuai status yang diyakininya. 

Dalam hal ini saya jadi ingat kebiasaan beberapa tetangga di rumah tinggal lama yang bikin nasi berkat/kardus nasi selamatan mencapai ratusan bahkan bisa sampai 400-500 undangan. Eh, ini kayaknya zaman dahulu, atau saya yang sudah 10 tahun tidak di sana. Kalau jajan untuk 7 hari memang rata-rata segitu, tapi isinya jajan di toko yang tinggal cemplung-cemplung saja. Bahkan, orang yang terpandang di desa akan menyiapkan 1000-1200 bungkus. Daebak banget ya.

Semua itu kembali ke prinsip hidup setiap orang. Mau melakukan yang seperti apa, sepanjang tidak ada aturan/norma agama maupun susila yang dilanggar, bisa dikatakan sah-sah saja. Saya tipe yang cuma suka mengabadikan cerita.


Semoga catatan kali ini ada manfaatnya....


Related Posts

7 komentar

  1. Kalau di adat batak ada namanya upah-upah. Tujuannya ya sama, selametan juga. Saya rasa tradisi yang sering kami jalankan kalau mulai dari menyambut kelahiran, naik kelas ketika sekolah, belum lulus sarjana, dan kejadian hidup lainnya, bagian dari daur hidup juga. Terima kash sharing insightnya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sebenarnya sama, hanya beda istilah saja. Kebetulan saya baru selesai membaca yang versi Lampung dan kesamaannya luar biasa.

      Hapus
  2. Di masa masuknya Islam lewat kesenian yang dibawa oleh para Walisongo, luar biasa strategi yang digunakan. Jadi Islam dikenalkan dengan damai dan indah. Mudah-mudahan generasi sekarang juga tau strategi dakwah yang damai. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara damai menggunakan budaya asli yang sudah ada ya.

      Hapus
  3. Mamahku Jawa banget. Sepanjang hidupku dulu ya sering ada selametan kecil smp besar. Mulai dari bubur merah-putih tiap hari weton. Ya bayangin kalau sesodaraan weton Senin-nya, beda-beda. Alamat tiap Senin ada bubur...hihi...Belum lagi pas menikah, aku punya anak dst...Anak-anak sekarang kayaknya udah engga mengenal ritual seperti itu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti di kelurga kami yang lebih banyak Rabunya, dan beda weton semua. Hihihi.

      Hapus
  4. Nasi asahan, menarik sekali. Kalau di kampungku Mba Sus, walau pun Sumatera Barat, tapi daerahku itu namanya JAMBAK (singkatan dari Jawa, Minang, Batak) ada tiga suku yg menghuninya, masih ada yang menerapkan selamatan ini. Masih ngirimin manual nasi ke tetangga-tetangga.

    BalasHapus

Posting Komentar